Oleh: Taufik Hidayat (Pembina Satuan Putra Gudep 25-087 Ki SemarBadranaya Pangkalan SMP Negeri 1 Curug)
Sering kita mendengar anak-anak berujar kata kasar saat memanggil teman-temannya. Seperti, “Anjng!, Bngs*t!”, serta kata umpatan kasar yang tidak layak penulis tuangkan pada tulisan ini. Mereka menganggap lumrah atau biasa karena tidak ada yang mengingatkan hal tersebut. Perasaan miris menghinggapi melihat kejadian ini. Sebab mereka berkata kasar bukan hanya di sekolah, dalam keseharian pergaulannya pun sering terjadi. Jika segala sesuatu yang mereka anggap biasa, akan membentuk sebuah budaya yang lazim. Cenderung terus berulang dan menjadi sebuah sebutan kata “sudah zamannya”. Apakah akan seperti ini generasi penerus kita? Hal ini perlu diskusi lebih serius terutama bagi kakak pembina saat berkegiatan.
Jangan heran, jika membiarkan budaya berkata kasar akan tertuju pada diri sendiri. Bayangkan, apabila peserta didik yang kita bina menyapa dengan menggunakan kata binatang, sungguh mengerikan! Maka, bagaimana kita menyikapi hal ini? Sebagai pembina yang baik hal tersebut bukanlah sebuah halangan melainkan peluang dan tantangan dalam membina adik-adik kita kearah yang sesuai dengan usia pada setiap golongan.
Begitu pentingnya kehadiran seorang pembina dalam setiap kegiatan. Bertujuan mengajarkan hal-hal positif yang selaras dengan Dasa Dharma dan Tri Satya. Melalui Sistem Among yakni “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”. Mampukah? Cobalah dahulu, lalu mainkan sesuai aturan yang berlaku, kemudian biarkan kuasa Allah Yang Maha Kuasa menentukan hasilnya.
Sistem among sangat cocok sekali dengan pendidikan kepramukaan. Atas dasar itulah pembina sebagai pembimbing sekaligus contoh bagi adik-adik yang butuh arahan. Bahkan ia menjadi teladan dalam segala tindak tanduknya. Berperan sebagai kakak dan orang tua pada saat mereka latihan. Namun, sistem among tidak akan berjalan dengan baik tanpa komunikasi yang jelas dan terarah. Persoalannya, apakah idealisme harus berjalan terus dengan hantaman kenyataan yang ada, dengan gaya komunikasi peserta didik yang sudah mulai banyak berkata kasar?
Sebagai pembina pasti akan berhadapan dengan kenyataan yang getir untuk kita taklukan. Sebab, berlaku baik pasti banyak musuh dan berlaku buruk semakin banyak musuh. Pastinya akan ada ketersinggungan tentang apa yang kita lakukan. Orang lain tersinggung bukan karena kita bicara salah, melainkan kita bicara benar. Hal itu penulis alami saat mengajak adik-adik praktek simulasi Dasa Dharma yang kesepuluh. Contohnya, saat adik-adik yang penulis bina dianggap melakukan kegiatan seperti paranormal dan ada unsur kleniknya. Namun dengan komunikasi yang baik, para orang tua wali mampu menerimanya.
Cara yang penulis lakukan untuk mencegah adik-adik berkata kasar adalah dengan simulasi.Dasa Dharma kesepuluh dan dua gelas air putih
yang menjadi pilihan. Dengan memberikan label kata-kata positif dan negatif. Arahan yang jelas dan tegas saat latihan untuk sesi pengarahannya, dan prakteknya di rumah mereka. Kegiatan ini dilakukan sebelum penulis mengikuti Kursus Mahir Tingkat Dasar Pembina Pramuka (KMD) tahun 2013 di Kwartir Ranting Legok.
Alat dan bahan yang digunakan cukup sederhana, yakni:
- Dua Gelas kaca bening dengan tutupnya atau sesuai kebutuhan
- Air mentah yang cukup untuk dua gelas
- Pulpen atau Alat Tulis lainnya.
- Stiker Label kecil atau kertas yang ditempeli dengan lem
Kegiatan ini terinspirasi dari buku The Hidden Secret Messages in Water. Buku tersebut adalah karangan Dr. Masaru Emoto yang terbit pada tahun 2004. Sekaligus menjadi New York Bestseller pada zamannya. Caranya dengan menuangkan air ke dalam dua gelas yang berbeda lalu ditutup.Kemudian mereka menuliskan pada stiker label kecil untuk kata baik pada gelas pertama dan kata buruk untuk gelas yang lainnya. Tulisan tersebut ditempel pada permukaan luar gelas selama tujuh hari berturut-turut tanpa dicopot. Hari kedua dan hari selanjutnya ditambahkan satu label kata yang baik maupun kata yang buruk. Jumlah seluruhnya adalah tujuh kata baik dan tujuh kata buruk.
Hasil dari pengamatan yang adik-adik lakukan dikumpulkan pada saat latihan hari ke tujuh. Mereka memberikan ulasannya berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan. Saat waktu pembahasan, semua menyatakan hal yang sama. Bahwa air pada gelas yang ditempeli oleh stiker label bertuliskan kata baik, dari rupa dan warna lebih jernih. Untuk rasa lebih enak dan seperti air matang. Sedangkan air pada gelas yang lain, dari rupa dan warna lebih keruh, rasanya getir jika mencicipinya, beraroma kurang sedap.
Berdasarkan hal itu pembina harus mampu mengarahkan dengan jelas. Bahwa stiker label ibarat ucapan kita kepada orang lain. Gelas kaca kita ibaratkan sebagai orang lain. Yakni teman, orang tua atau siapa pun itu. Air adalah hati dan perasaan orang tersebut beserta emosi yang ia rasakan saat kita berucap. Buktinya, kata yang baik mampu merubah rupa dan rasa air begitupun sebaliknya. Bayangkan itu terjadi pada kita!
Dari kegiatan tersebut kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah. Bahwa, ucapan laksana label yang tertempel pada gelas. Ia mampu merubah rupa dan rasa pada air di dalamnya. Seperti itu pula setiap ucapan mampu merubah perasaan dan hati setiap orang. Berhati-hatilah dalam berucap! Bukankah keselamatan manusia ditentukan oleh lisannya? Ada peribahasa mengatakan mulutmu adalah harimaumu. Marilah kita laksnakan Dasa Dharma kesepuluh yakni suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan! Penulis yakin bahwa tulisan berpraktik baik ini belumlah mampu merubah kita untuk selalu dan mampu melaksanakan Dasa Dharma kesepuluh dengan luar biasa. Namun setidaknya, memberikan jalan lain yang telah tersuguhkan. Keberuntungan memilih yang bijaksana dalam bertutur dan bertindak. Pramuka adalah Garda terakhir bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melalui motto Satyaku Kudarmakan Darmaku Kubaktikan, tulisan ini hadir. Semoga bermanfaat!







